Minggu, 07 Oktober 2012

Kita Vs Korupsi


“Kita versus Korupsi”
            Negara kita adalah sebuah negara yang telah dinyatakan sebagai negara berdaulat, namun siapa sangka, negara ini masih belum keluar dari masalah utamanya. Masalah ini sudah berakar labih dari ratusan tahun, bahkan sejak negara ini belum merdeka. Sejak masa penjajahan belanda negara Indonesia yang kini berdaulat telah diperkenalkan dengan sistem yang menguntungkan diri sendiri yang kita kenal sebagai sistem korupsi. Negara ini perlu bantuan dari kita, sebagai rakyat yang baik yang menjadi batu pondasi negara ini.
            Korupsi yang selalu kita dengar, kita bicarakan, bahkan selalu kita benci tidak akan pernah selesai  hanya dengan dibicarakan. Bahkan dengan adanya Komisi Pemberantas Korupsi sekalipun masalah korupsi belum mendapatkan jamina dapat dibersihkan dari negara ini. salah satu cara yang harus diterapkan segera saat ini adalah dengan mencegah bibit koruptor baru yang dapat muncul.
            Salah satu karya untuk menghentikan munculnya bibit koruptor ini adalah dengan menanamkan mindset yang kuat pada anak – anak ataupun pemuda, dengan pendekatan emosional yang sangat dekat dengan kehidupan sosialnya. Karya dengan pendekatan demikian telah muncuk sebagai film “kita vs korupsi”.
            Film yang sangat kental dengan perlawanan korupsi ini saya kira perlu dinikmati oleh semua kalangan yang mempunyai niatan untuk menghapus korupsi di negara Indonesia ini. saya berharap meski saya bukan produser yang membuatnya, namun harapan agar semua orang dapat menjiwai film tersebut dan bangkit untuk melawan korupsi dari diri sendiri. Sebagai tujuan akhir adalah negara yang merdeka dari korupsi.

NB : “kebaikan akan muncul dari kebaikan – kebaikan sebelumnya” adalah pesan di akhir film tersebut. 

Kamis, 26 Januari 2012

Buah hati dan Pikiran,


“Demi pena dan apa yang dituliskan”
Dengan
“berlomba – lombalah dalam kebajikan”

              Semboyan, adalah sebuah kata – kata indah yang merujuk pada semangat perjuangan, yang akan menjadi motor penggerak sebagai orientasi gerakan pada setiap perjuangan yang dilakukan. Namun pada langkah berikutnya kita perlu mengambil pelajaran tentang bagaimana menyikapi sebuah semboyan atau motto, atau hanya sebuah prosa sebagai identitas, kita perlu mengambil banyak pelajaran akan hal itu. Bagaimana membuatnya sebagai goresan yang berarti dalam kehidupan nyata, atau hanya sebagai goresan bualan dari tinta dan tangan yang hanya digoreskan pada kertas bisu.
              Sebelum tulisan ini mengkritik lebih panjang, bagi mereka yang merasa perlu dikritik, bagi mereka yang dapat menerima sebagai kritik pembangun, atau hanya dibaca kemudian dianggap tidak penting dan tetap berjalan dalam track mereka yang sama dengan sebelumnya, saya akan menyatakan tentang pemikiran saya tentang kedua semboyan diatas, tentang “Demi pena dan apa yang dituliskan” jika boleh saya artikan tulisan ini jelas mengarahkan kita untuk menuliskan sesuatu yang berarti, yang dapat merubah, mempengaruhi, dan tentu saja demi kebaikan, semboyan  ini mengarah pada suatu gebrakan kegiatan dalam orientasi pemikiran yang dituliskan.  Mari kita beranjak pada semboyan kedua “berlomba – lombalah dalam kebaikan” dalam sudut ini telah ditekankan suatu kebaikan, dalam semboyan ini sudah dianggap kita tahu apa yang harus kita lakukan dalam melakukan kebaikan, hal ini ditunjukkan dengan tidak dituliskannya apa yang perlu kita lakukan, dalam orientasi ini segala kebaikan yang bisa kita lakukan, maka lakukanlah segera secepat yang anda yang bisa.
              Dalam tulisan ini saya mengajak anda untuk berpikir obyektif, semoga tulisan ini bisa menjadi jalan tentang apa yang kita cari dalam setiap perjuangan yang kita lakukan. Mari kita berkaca pada perjuangan beberapa tokoh nasional, Raden Ajeng Kartini, siapa yang tidak mengenal tokoh nasional ini, saya piker kita semua telah mengenal sepak terjang yang sering dikatan mampu mengangkat persamaan hak atas seorang wanita, tapi bagaimana bentuk perjuangan yang beliau (kartini) lakukan, saya jamin tidak semua orang Indonesia tahu, mungkin termasuk saya sebelum saya membaca (lebih tepat berkesempatan lebih dahulu) biografi perjuangan kartini. Selama perjuangan yang dilakukan Kartini melakukannya dengan tulisan yang pedas dan tajam pada masa itu, Kartini merupakan salah satu penulis wanita yang diperhitungkan, hingga Karini mampu mengengkat perekonomian rakyat jepara yang terkenal dengan ukirannya melalui tulisan – tulisan yang dia hasilkan. Dalam hal ini Kartini telah melakukan bentuk perjuangan tulisan dan dia berani berlomba, sebagai seorang wanita pertama jawa pada masanya untuk berjuang dengan tulisan.
              Masih banyak kawan jika kita berkaca pada setiap tokoh dunia ini yang berjuang dari tulisan dan perlombaan untuk berani memulai, karena tulisan lebih kuat bertahan daripada pikiran kita, banyak kita lupa apa yang kita pikirkan jika kita tidak menuliskannya, dan keadaan yang lebih parah terkadang kita telah menuliskan apa yang akan kita lakukan tetapi kita terlalu takut untuk berlomba dan memulainya terlebih dahulu. Maka dari itulah kawanku kita dilahirkan di tanah yang sama, maka marilah kita berjuang bersama, dan bersama kita bayangkan “apa yang terjadi jika kita tidak mengkaplingkan dua semboyan, dan saling berlomba untuk melakukannya ?”. mari kita lakukan kawan !!
              Tulisan ini saya tulis berdasarkan tiga konsep pemikiran
1.      Mengapa kedua semboyan diatas sering dikaplingkan padahal kedua tujuan relative sama yang terkadang justru menjadi sebuah masalah yang tidak bisa dianggap remeh dan sederhana.
2.      Bagaimana contoh – contoh dalam melakukan proses perjuangan pada masa lampau
3.      Siapakah kita yang berada dalam sayap perjuangan ?, telah berjuangkah kita untuk semboyan yang kita usung – usung sebagai identitas, benarkah identitas dalam diri kita, atau hanya identitas yang membungkus kita dalam kepalsuan

Mari kita berpikir obyektif dan saling memperbaiki, dalam hal ini saya telah menulis, dan saya telah berlomba dengan anda. Selanjutnya siapakah yang akan berlomba dengan saya J
Bo-O_Ashura@1870

Minggu, 18 Desember 2011

KAKAO INDONESIA


                   Sebenarnya kakao itu milik siapa sich ??, pertanyaan muncul saat kunjungan kemaren dengan kawan special atas tukar pikiran dengan para penyamun yang selalu kritis dan mencoba mengkritisi, maka muncullah pertanyaan diatas.
                   Dari hasil analisa kami, kakao yang diproduksi dari PTPN XII bermutu cukup bagus dan mampu mengekspor sampai ke luar negri. Kenapa tidak sekalian diolah dan memiliki harga yang lebih tinggi dari pada biji kakao yang diekspor, padahal coklat merupakan konsumsi yang sangat disukai dengan harga yang cukup tinggi. Padahal seandainya kakao kita diolah menjadi coklat keuntungan akan semakin banyak pada pihak produsen, tentunya berimbas pada terbukanya lapangan kerja yang lebih luas, meningkatnya infrastruktur, bahkan bisa menambah pendapatan negara, dan jika dialokasikan dengan benar semakin banyak biaya untuk mengentas kemiskinan dan buta huruf.
                   Logika yang aku rasa masuk akal, tapi menjadi tidak logis q rasa jika diterapkan di INDONESIA yang semua aspek penuh dengan KORUPSI, semua lini. Maka saya merasa bosan untuk menuliskan pikiran saya selanjutnya, karena akan menjadi sia – sia bahkan jika disampaikan pda presiden sekalipun. Karena presiden juga termasuk dalam aliran korupsi meski hanya di hilir.